tugas biokimia

Published 12 November 2012 by rama cahyati

BAB 1

INDIKATOR YANG DIGUNAKAN DALAM TITRASI ASAM-BASA

  1. Teori tentang Titrasi

Titrasi merupakan suatu metode untuk menentukan kadar suatu zat dengan menggunakan zat lain yang sudah diketahui konsentrasinya. Titrasi biasanya dibedakan berdasarkan jenis reaksi yang terlibat di dalam proses titrasi. Sebagai contoh bila melibatkan reaksi asam basa maka disebut sebagai titrasi asam basa, titrasi redoks untuk titrasi yang melibatkan reaksi reduksi oksidasi, titrasi kompleksometri untuk titrasi yang melibatkan pembentukan reaksi kompleks dan lain sebagainya. (di sini hanya dibahas tentang titrasi asam basa). Zat yang akan ditentukan kadarnya disebut sebagai “titran” dan biasanya diletakkan di dalam Erlenmeyer, sedangkan zat yang telah diketahui konsentrasinya disebut sebagai “titer” dan biasanya diletakkan di dalam Buret. Baik titer maupun titran biasanya berupa larutan (Brady,1999).

Prinsip Titrasi asam basa yaitu melibatkan asam maupun basa sebagai titer maupun titran.  Titrasi asam basa berdasarkan reaksi penetralan. Kadar larutan asam ditentukan dengan menggunakan larutan basa dan sebaliknya. Titran ditambahkan titer sedikit demi sedikit sampai mencapai keadaan ekuivalen. (artinya secara stoikiometri titran dan titer cepat habis bereaksi). Keadaan ini disebut sebagai “titik ekuivalen”. Pada saat titik ekuivalen ini maka proses titrasi dihentikan, kemudian kita mencatat volume titer yang diperlukan untuk mencapai keadaan tersebut. Dengan menggunakan data volume titran, volume dan konsentrasi titer maka kita bisa menghitung kadar yang terdapat dalam titran (Brady,1999).

  1. Indikator-indikator Asam-Basa

Indikator adalah suatu zat yang mempunyai warna dalam keadaan asam dan basa berlainan. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk mendeteksi suatu asam atau basa adalah menggunakan kertas lakmus. Kertas lakmus merah akan berubah menjadi biru oleh basa sedangkan lakmus biru akan berubah menjadi merah oleh asam. Beberapa indikator seperti Fenolftalein, Methyl orange, Bromtimol biru dan lain lain umum digunakan untuk menentukan keasaman dalam titrasi asam-basa (Brady,1999).

Asam dapat didefinisikan sebagai senyawa yang dapat melepas ion H+ dalam larutan dan basa sebagai senyawa yang dapat menerima ion H+. Suatu indikator jika ditambahkan pada suatu larutan akan merespon keadaan ion H+ dalam medium dengan terjadinya perubahan warna. Hal ini terjadi karena kemikalia pada indikator dapat berionisasi dalam larutan. Indikator-indikator yang berbeda berubah warna pada nilai PH yang berbeda (Salamah,2012).

(Underwood,1990).

Cara kerja indikator

Lakmus

Lakmus adalah asam lemah. Lakmus memiliki molekul yang sungguh rumit yang akan kita sederhanakan menjadi HLit. “H” adalah proton yang dapat diberikan kepada yang lain. “Lit” adalah molekul asam lemah. Tidak dapat dipungkiri bahwa akan terjadi kesetimbangan ketika asam ini dilarutkan dalam air. Pengambilan versi yang disederhanakan kesetimbangan ini:

Lakmus yang tidak terionisasi adalah merah, ketika terionisasi adalah biru. Sekarang gunakan Prinsip Le Chatelier untuk menemukan apa yang terjadi jika kita menambahkan ion hidroksida atau beberapa ion hidrogen yang lebih banyak pada kesetimbangan ini.

Penambahan ion hidroksida:

Penambahan ion hidrogen:

Jika konsentrasi Hlit dan Lit sebanding:

Pada beberapa titik selama terjadi pergerakan posisi kesetimbangan. Konsentrasi dari kedua warna akan menjadi sebanding. Warna yang kita lihat merupakan percampuran dari keduanya.

Alasan untuk membubuhkan tanda kutip disekitar kata “netral” adalah bahwa tidak terdapat alasan yang tepat kenapa kedua konsentrasi menjadi sebanding pada pH 7. Untuk lakmus, terjadi perbandingan warna mendekati 50 / 50 pada saat pH 7,  hal itulah yang menjadi alasan kenapa lakmus banyak digunakan untuk pengujian asam dan basa (Alex,2009).

Jingga metil (Methyl orange)

Jingga metil adalah salah satu indikator yang banyak digunakan dalam titrasi. Pada larutan yang bersifat basa, jingga metil berwarna kuning dan strukturnya adalah:

Pada faktanya, ion hidrogen tertarik pada salah satu ion nitrogen pada ikatan rangkap nitrogen-nitrogen untuk memberikan struktur yang dapat dituliskan seperti berikut ini:

Kita memiliki kesetimbangan yang sama antara dua bentuk jingga metil seperti pada kasus lakmus, tetapi warnanya berbeda.

Terjadi perubahan warna ketika kita menambahkan asam atau basa. Penjelasannya identik dengan kasus lakmus, bedanya adalah warna. Pada kasus jingga metil, pada setengah tingkat dimana campuran merah dan kuning menghasilkan warna jingga terjadi pada pH 3,7  mendekati netral (Alex,2009).

Indikator Methyl orange merupakan indikator asam-basa yang berwarna merah dalam suasana asam dan berwarna jingga dalam suasana basa, dengan trayek pH 3,1 – 4,4.
Penggunaan Methyl orange dalam titrasi:

  1. Tidak dapat digunakan untuk titrasi asam kuat oleh basa kuat, karena pada titik ekuivalen tidak tepat memotong pada bagian curam dari kurva titrasi, hal ini disebabkan karena titrasi ini saling menetralkan sehingga akan berhenti pada PH 7.
  2. Titrasi asam lemah oleh basa kuat jelas tidak boleh digunakan karena PH +9 untuk konsentrasi 0,1 M.
  3. Titrasi basa lemah oleh asam kuat dapat dipakai tetapi harus hati-hati. Titrasi harus dihentikan jika sudah terjadi perubahan warna.
  4. Titrasi garam dari asam lemah oleh asam kuat. Methyl orange dapat dipakai tetapi titrasi harus dihentikan setelah warna berubah (Pangganti,2012).

Fenolftalein

Fenolftalein adalah indikator titrasi yang lain yang sering digunakan dan fenolftalein ini merupakan bentuk asam lemah yang lain.

Pada kasus ini, asam lemah tidak berwarna dan ion-nya berwarna merah muda terang. Penambahan ion hidrogen berlebih menggeser posisi kesetimbangan ke arah kiri dan mengubah indikator menjadi tak berwarna. Penambahan ion hidroksida menghilangkan ion hidrogen dari kesetimbangan yang mengarah ke kanan untuk menggantikannya. Mengubah indikator menjadi merah muda.

Setengah tingkat terjadi pada pH 9,3. Karena pencampuran warna merah muda dan tak berwarna menghasilkan warna merah muda yang pucat, hal ini sulit untuk mendeteksinya dengan akurat (Alex,2009).

Indikator ini banyak digunakan karena harganya murah. Indikator PP tidak berwarna dalam bentuk HIn (asam) dan berwarna merah jambu dalam bentuk In– (basa). Perhatikan struktur fenolftalein berikut:

(Budiyanto,2011).

Indikator fenolftalein dibuat dengan cara kondensasi anhidrida ftalein (asam ftalat) dengan fenol. Trayek pH 8,2 – 10,0 dengan warna asam yang tidak berwarna dan berwarna merah muda dalam larutan basa.

Penggunaan PP dalam titrasi:

  1. Tidak dapat digunakan untuk titrasi asam kuat karena pada titik ekuivalen tidak tepat memotong pada bagian curam dari kurva titrasi. Hal ini disebabkan karena titrasi ini saling menetralkan sehingga akan berhenti pada PH 7. Sedangkan warna berubah pada PH 8.
  2. Titrasi asam lemah oleh basa kuat boleh digunakan karena pada PH +9 untuk konsentrasi 0,1 M.
  3. Titrasi basa lemah oleh asam kuat tidak dapat dipakai.
  4. Titrasi garam dari asam lemah oleh asam kuat PP tidak dapat dipakai. Trayek PH tidak sesuai dengan titik ekuivalen (Pangganti,2012).

Metil Merah (Methyl Red)

Indikator methyl Red adalah indikator asam basa yang memiliki trayek pH 4,2 – 6,3 dengan berwarna merah dalam suasana asam dan berwarna kuning dalam suasana basa.
penggunaan MR dalam titrasi:

  1. Asam kuat dengan basa kuat tidak dapat dipakai karena pada PH 6,3 sudah terjadi perubahan belum mencapai PH 7.
  2. Asam lemah dengan basa kuat jelas tidak boleh digunakan karena titik ekuivalen pada PH +9.
  3. Basa lemah dengan asam kuat tidak disarankan untuk dipakai karena titik ekuivalen pada PH 7 sedangkan indikator bau berubah pada PH 6,3.
  4. Basa kuat dengan asam kuat tidak baik karena sebelum pada titik ekuivalen PH +5 indikator sudah berubah warnanya.
  5. Garam asam lemah dari asam kuat tidak baik karena sebelum pada titik ekuivalen PH +5 indikator sudah berubah warnanya (Pangganti,2012).

Bromtimol Biru (Bromthymol Blue)

Indikator BTB atau biru bromtimol dalam larutan asam berwarna kuning dan dalam larutan basa berwarna biru. Warna dalam keadaan asam disebut warna asam dan warna dalam keadaan basa disebut warna basa. Trayek PH pada 6,0-7,6.

Penggunaan BTB dalam titrasi:

  1. Asam kuat dengan Basa kuat, dapat dipakai dan paling ideal, dengan kesalahan titrasi yang kecil. Titrasi mencapai pH 7 dengan warna hijau. Ini berarti larutan yang semula kuning berubah jadi hijau. Tak perlu sampai jadi biru.
  2. Asam lemah dengan Basa kuat. Kurang baik karena trayek pH tidak seluruhnya memotong bagian curam di kurva, sehingga penambahan setetes titran tidak dapat mengubah warna larutan dari warna kuning menjadi biru. Titrasi harus segera dihentikan pada saat mulai tampak warna biru.
  3. Basa lemah dengan Asam kuat tidak baik karena terlalu awal warna timbul.
  4. Garam dari Asam lemah oleh Asam kuat. Tidak baik karena terlalu awal warna timbul (Pangganti,2012).

p-nitrofenol

Merupakan asam lemah. Bentuk tak terurai p-nitrofenol tidak berwarna, tetapi anionnya yang mempunyai suatu sistem pengubah ikatan tunggal dan ganda (sistem terkonjugat), berwarna kuning. Molekul-molekul atau ion-ion yang mempunyai sistem terkonjugat tersebut menyerap sinar berpanjang gelombang lebih panjang ketimbang molekul-molekul sebanding yang tidak ada sistem terkonjugatnya.  Sinar yang diserap sering kali berada pada bagian tampak dari spektrum , sehingga molekul atau ion tersebut berwarna (Underwood,1990).

 

BAB II

FUNGSI PENAMBAHAN

  1. Fungsi penambahan Asam cuka glasial

Asam asetat murni disebut juga asam asetat glasial. Asam asetat glasial merupakan nama trivial untuk asam asetat yang tidak bercampur dengan air. Asam asetat glasial adalah cairan higroskopis tak berwarna dengan titik beku 16,70 C. Struktur asam asetat glasial berbentuk yang menunjukkan bahwa molekul-molekul asam asetat glasial berpasangan membentuk dimer yang dihubungkan oleh ikatan hidrogen. Sifat dimerisasi juga dimiliki oleh asam karboksilat sederhana lainnya (Jones,1958).

Pada masa renaisans, asam asetat glasial dihasilkan dari distilasi kering logam asetat. Pada abad ke-16 ahli alkimia Jerman Andreas Libavius menjelaskan prosedur tersebut dan membandingkan massa asam asetat glasial yang dihasilkan terhadap cuka. Ternyata asam asetat glasial memiliki bamyak perbedaan sifat dengan larutan asam asetat dalam air, sehingga banyak ahli kimia mempercayai bahwa keduanya sebenarnya adalah dua zat berbeda. Ahli kimia Prancis Pierre Adet akhirnya membuktikan bahwa kedua zat ini seharusnya sama (Anonim,2011).

Tujuan penambahan Asam cuka glasial pada percobaan untuk mengetahui kandungan vitamin C pada bahan makanan yaitu untuk mengurangi oksidasi vitamin C oleh enzim-enzim oksidasi atau untuk meningkatkan speksifitas dari vitamin C atau asam askorbat. Selain itu asam asetat glasial juga berfungsi sebagai indikator pada titik akhir titrasi yaitu pada saat tepat berubah warna (Jones,1958).

  1. Fungsi penambahan Kloroform

Kloroform adalah nama umum untuk triklorometana (CH4Cl3). Kloroform dikenal karena sering digunakan sebagai bahan pembius, meskipun tidak jarang digunakan sebagai pelarut non polar di labolatorium maupun industri. Dalam suhu ruangan kloroform berwujud cair namun mudah menguap. Senyawa kloroform adalah senyawa haloalkana yang mengikat tiga atom klorin atau kolagen klor (Cl). Pada rantai C-nya senyawa organik yang mempunyai gugus metil (CH3) yang terikat pada atom C karbon atau C hidroksil yang direaksikan dengan pereaksi halogen (Cl2). Beberapa senyawa yang dapat membentuk kloroform dan senyawa haloform lainnya adalah etanol, 2-propanol, 2-butanol, etanol, propanon, 2-butanon (Fatmawati,2009).

Pada sampel apel larutan titer perlu diberi kloroform. Hal ini disebabkan oleh warna sari apel yaitu kecoklatan sehingga titik akhir titrasi menjadi sulit diamati. Setelah diberi kloroform maka titik akhir titrasi akan terlihat yaitu larutan menjadi merah muda. Sehingga bisa dikatakan bahwa fungsi dari kloroform yang ditambahkan pada larutan yang dititrasi adalah untuk mengikat warna. Karena zat warna bersifat non polar sehingga agar warna dapat diikat perlu digunakan larutan non polar  untuk mengikatnya. Kloroform merupakan larutan non polar sehingga dapat mengikat warna. Apabila digunakan akuades untuk mengikat warna, maka tidak akan terjadi karena akuades merupakan larutan polar (Fatmawati,2009).

  1. Penggunaan titran 2,6 Di-khlorofenolindofenol dalam penentuan kadar vitamin C dengan metode 2,6 D

Larutan 2,6 Di-khlorofenolindofenol adalah larutan yang digunakan sebagai titran dalam titrasi penentuan kadar vitamin C. Pada saat tutrasi dilakukan terjadi reaksi reduksi 2,6 Di-khlorofenolindofenol dengan adanya vitamin C dalam larutan asam (Hasmi,1986).

Larutan 2,6 Di-khlorofenolindofenol dalam suasana netral atau basa akan berwarna biru sedang dalam suasana asam akan berwarna merah muda. Apabila 2,6 Di-khlorofenolindofenol direduksi oleh asam askorbat maka akan menjadi tidak berwarna dan bila semua asam askorbat sudah mereduksi 2,6 Di-khlorofenolindofenol maka kelebihan larutan 2,6 Di-khlorofenolindofenol sedikit saja sudah akan terlihat dengan terjadinya pewarnaan (Sudarmadji,1989).

Fungsi larutan 2,6 Di-khlorofenolindofenol ialah pereaksi untuk memperlihatkan jumlah vitamin C yang terdapat dalam sampel menjadi senyawa dehidro askorbat sehingga akan berwarna merah muda karena pereaksi yang berlebih. Fungsi duplo ialah untuk meningkatkan ketepatan percobaan kali ini disebabkan oleh penggunan metode titrasi yang terkadang dalam mentritan sampel, pereaksi 2,6 Di-khlorofenolindofenol yang diteteskan berlebih (Sudarmadji,1989).

Pada proses titrasi kali ini yang bertindak sebagai titran adalah 2,6 Di-khlorofenolindofenol. Larutan ini digunakan sebagai titran karena vitamin C yang akan mengalami oksidasi setelah bereaksi dengan 2,6 Di-khlorofenolindofenol atau vitamin C ini disebut sebagai reduktor. Akan tetapi vitamin C juga akan mengalami reduksi setelah bereaksi dengan 2,6 Di-khlorofenolindofenol atau vitamin C ini bertindak sebagai reduktor (Hashmi,1986).

BAB III

LARUTAN BUFFER

Larutan penyangga, larutan Dapar, atau larutan buffer adalah larutan yang digunakan untuk mempertahankan nilai PH tertentu agar tidak banyak berubah selama reaksi kimia berlangsung. Sifat yang khas dari larutan penyangga ini adalah PH-nya hanya berubah sedikit dengan pemberian sedikit asam kuat atau basa kuat.

Larutan penyangga tersusun dari asam lemah dengan basa konjugatnya atau oleh basa lemah dengan asam konjugatnya. Reaksi diantara kedua komponen penyusun ini disebut sebagai reaksi asam-basa konjugasi.

Komponen larutan penyangga:

Secara umum, larutan penyangga digambarkan sebagai campuran yang terdiri dari:

  • Asam lemah (HA) dan basa konjugasinya (ion A-), campuran ini menghasilkan larutan bersifat asam.
  • Basa lemah (B) dan asam konjugasinya (BH+), campuran ini menghasilkan larutan bersifat basa.

Komponen larutan penyangga terbagi menjadi:

  • Larutan penyangga yang bersifat asam

Larutan ini mempertahankan pH pada daerah asam (pH < 7). Untuk mendapatkan larutan ini dapat dibuat dari asam lemah dan garamnya yang merupakan basa konjugasi dari asamnya. Adapun cara lainnya yaitu mencampurkan suatu asam lemah dengan suatu basa kuat dimana asam lemahnya dicampurkan dalam jumlah berlebih. Campuran akan menghasilkan garam yang mengandung basa konjugasi dari asam lemah yang bersangkutan. Pada umumnya basa kuat yang digunakan seperti natrium Na, kalium, barium, kalsium, dan lain-lain.

  • Larutan penyangga yang bersifat basa

Larutan ini mempertahankan pH pada daerah basa (pH > 7). Untuk mendapatkan larutan ini dapat dibuat dari basa lemah dan garam yang garamnya berasal dari asam kuat. Adapun cara lainnya yaitu dengan mencampurkan suatu basa lemah dengan suatu asam kuat dimana basa lemahnya dicampurkan berlebih.

Cara kerja larutan penyangga:

Larutan penyangga mengandung komponen asam dan basa dengan asam dan basa konjugasinya, sehingga dapat mengikat baik ion H+ maupun ion OH-. Sehingga penambahan sedikit asam kuat atau basa kuat tidak mengubah pH-nya secara signifikan.

 

Larutan penyangga asam

Adapun cara kerjanya dapat dilihat pada larutan penyangga yang mengandung CH3COOH dan CH3COO yang mengalami kesetimbangan. Dengan proses sebagai berikut:

  • Pada penambahan asam

Penambahan asam (H+) akan menggeser kesetimbangan ke kiri. Dimana ion H+ yang ditambahkan akan bereaksi dengan ion CH3COO membentuk molekul CH3COOH.

CH3COO(aq) + H+(aq) → CH3COOH(aq)

  • Pada penambahan basa

Jika yang ditambahkan adalah suatu basa, maka ion OH- dari basa itu akan bereaksi dengan ion H+ membentuk air. Hal ini akan menyebabkan kesetimbangan bergeser ke kanan sehingga konsentrasi ion H+ dapat dipertahankan. Jadi, penambahan basa menyebabkan berkurangnya komponen asam (CH3COOH), bukan ion H+. Basa yang ditambahkan tersebut bereaksi dengan asam CH3COOH membentuk ion CH3COO dan air.

CH3COOH(aq) + OH(aq) → CH3COO(aq) + H2O(l)

Larutan penyangga basa

Adapun cara kerjanya dapat dilihat pada larutan penyangga yang mengandung NH3 dan NH4+ yang mengalami kesetimbangan. Dengan proses sebagai berikut:

  • Pada penambahan asam

Jika ditambahkan suatu asam, maka ion H+ dari asam akan mengikat ion OH. Hal tersebut menyebabkan kesetimbangan bergeser ke kanan, sehingga konsentrasi ion OH dapat dipertahankan. Disamping itu penambahan ini menyebabkan berkurangnya komponen basa (NH3), bukannya ion OH. Asam yang ditambahkan bereaksi dengan basa NH3 membentuk ion NH4+.

NH3 (aq) + H+(aq) → NH4+ (aq)

  • Pada penambahan basa

Jika yang ditambahkan adalah suatu basa, maka kesetimbangan bergeser ke kiri, sehingga konsentrasi ion OH- dapat dipertahankan. Basa yang ditambahkan itu bereaksi dengan komponen asam (NH4+), membentuk komponen basa (NH3) dan air.

NH4+ (aq) + OH(aq) → NH3 (aq) + H2O(l) (Clark,2007).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Alex.2009.”Cara Kerja Indikator”.

http://wiro-pharmacy.blogspot.com/2009/02/kuliah-titrasi-asam-basa-             netralisasi.html.Diakses 18 Juni 2012.

Anonim.2011.”Asam Cuka Glasial”.http://cakra-buwana.blogspot.com/2012/03/uji vit C//

Diakses 18 juni 2012.

Brady,James E.1999.Kimia Universitas Asas dan Struktur.Jakarta:Gramedia Pustaka Utama.

Budiyanto.2011.”Titrasi Asam Basa”.

http://Budisma.web.id/materi/sma/kimia-kelas-IX/titrasi-asam-basa//. Diakses 18 Juni 2012.

Clark,Jim.2007.”Larutan Penyangga”.

www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia_fisikal/kesetimbangan _asam_basa/larutan_penyangga// Diakses 18 Juni 2012.

Fatmawati.2009.Penuntut Ilmu Gizi Umum.Jakarta:Kartika.

Hashmi.1986.Assay of Vitamin in Pharmacevtical Preparation.London:John Wiley and Son.

Jones,F.E.1958.The Crystal Structur of Alitic Acid.London:Chopman.

Pangganti,Esdi.2012.”Indikator Asam Basa”.

esdikimia.wordpress.com/2012/05/23/indikator-asam-basa//. Diakses 18 Juni 2012.

Sudarmadji.1989.Analisa Bahan Makanan dan Pertanian Edisi 1.Yogyakarta:Liberty.

Salamah,Zuchrotus.2012.Petunjuk Praktikum Biokimia.

Yogyakarta:Labolatorium Biologi  Fakultas MIPA UAD.

Underwood,AL.dan Day RA.1990.Analisis Kimia Kuntitatif edisi ke-enam.

Jakarta:Erlangga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: