menangani sampah secara efektif

Published 12 November 2012 by rama cahyati

Sampah menjadi masalah di mana saja. Sampah adalah hal yang wajar dan semestinya. Selalu ada sampah. Ibaratnya, orang makan tidak semua yang kita makan akan habis. Selalu ada sisa dan ada yang dibuang. Nafas kita adalah sampah kita. Keringat kita adalah sampah kita. Binatang lain atau organisme lain juga memiliki perilaku yang mirip, selalu “buang sampah”. Bangkai binatang menjadi “sampah” juga. Kalau diperhatikan, mesin pun juga buang sampah. Motor dan mobil buang asap, itulah sampahnya. Pabrik juga buang sampah, tetapi kita menyebutnya “limbah”. Intinya sama saja: sampah.

Pertumbuhan ekonomi di indonesia telah meningkatkan taraf kehidupan penduduknya. Peningkatan pendapatan di negara ini ditunjukkan dengan pertumbuhan kegiatan produksi dan konsumsi. Pengurusan sampah sering mengalami masalah. Pembuangan sampah yang tidak diurus dengan baik, akan mengakibatkan masalah besar. Karena penumpukan sampah atau membuangnya sembarangan ke kawasan terbuka akan mengakibatkan pencemaran tanah yang juga akan berdampak ke saluran air tanah. Demikian juga pembakaran sampah akan mengakibatkan pencemaran udara. Pembuangan sampah ke sungai akan mengakibatkan pencemaran air, tersumbatnya saluran air dan banjir. Masalah sampah sudah saatnya dilihat dari konteks nasional. Sudah saatnya dilakukan pengurangan jumlah sampah, air sisa serta peningkatan kegiatan dalam menangani sampah.

Sampah adalah suatu bahan yang terbuang atau dibuang dari sumber hasil aktifitas manusia maupun alam yang belum memiliki nilai ekonomis. Sampah berasal dari rumah tangga, pertanian, perkantoran, perusahaan, rumah sakit, pasar dan lain-lain. Permasalahan sampah di indonesia antara lain semakin banyaknya limbah sampah yang dihasilkan masyarakat, kurangnya tempat sebagai tempat pembuangan sampah. Sampah sebagai tempat berkembang dan sarang dari serangga dan tikus, menjadi sumber polusi dan pencemaran tanah, air dan udara, menjadi sumber dan hidup kuman-kuman yang membahayakan kesehatan.

Pembuangan sampah yang selama ini banyak dilakukan adalah dengan ditumpunya di pinggir jalan, lalu tim gerak pembersihan sampah mengambil secara rutin, tapi bagaimana denagan masyarakat yang tinggal di daerah atau rumahnya jauh dari jangkauan tim gerak pembersihan sampah. Mungkin ini yang menjadi pangkal masalah. Karena tidak menutup kemungkinan masyarakat tersebut membuang sampah ke sungai-sungai terdekat atau hanya ditumpuk begitu saja atau dibakar.

Begitupun dampak dari sampah yang dibakar, mungkin pembakaran sampah di pekarangan rumah lebih praktis, tapi dalam jangka waktu yang panjang cara seperti ini sebenarnya merugikan individu yang bersangkutan, komunitas dan lingkungan secara keseluruhan. Polusi yang kelihatannya ini sedikit, lama-lama menjadi bukit. Karena polusi ini perlahan-lahan akan membuat sebagian orang yang seharusnya hidup sehat menjadi sakit, antara lain sakit gangguan pernapasan.

Kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan lingkungan hidup belum optimal, bahkan cenderung banyak masyarakat yang mengabaikannya. Sehingga hal ini banyak bencana seperti banjir dan tanah longsor. Bahkan lingkungan yang buruk banyak menimbulkan berbagai penyakit di masyarakat seperti demam berdarah (DB), Chikungunya dan lain-lain. Untuk itu perlu penyadaran lebih mendalam kepada masyarakat agar mereka mau dan perduli terhadap lingkungan hidup.

Untuk menangani permasalahan sampah secara menyeluruh perlu dilakukan alternatif-alternatif dan pengelolaan. Pembakaran bukan merupakan alternatif yang sesuai, karena pembakaran tidak berkelanjutan dan menimbulkan masalah lingkungan. Malahan alternatif-alternatif tersebut harus bisa menangani semua permasalahan pembuangan sampah dengan cara mendaur-ulang semua limbah yang dibuang kembali ke ekonomi masyarakat atau ke alam, sehingga dapat mengurangi tekanan terhadap sumber daya alam. Daripada mengasumsikan bahwa masyarakat akan menghasilkan jumlah sampah yang terus meningkat, minimalisasi sampah harus dijadikan prioritas utama. Sampah yang dibuang harus dipilah, sehingga tiap bagian dapat dikomposkan atau di daur-ulang secara optimal, daripada dibuang ke sistem pembuangan limbah yang tercampur seperti yang ada saat ini. Dan industri-industri harus mendesain ulang produk-produk mereka untuk memudahkan proses daur ulang produk tersebut.

Program-program sampah kota harus disesuaikan dengan kondisi setempat agar berhasil, dan tidak mungkin dibuat sama dengan kota lainnya. Terutama program-program di negara-negara berkembang seharusnya tidak begitu saja mengikuti pola progranm yang telah berhasil dilakukan di negara-negara maju, mengingat perbadaan kondisi-kondisi fisik, ekonomi, hukum dan budaya. Khususnya sektor informal (tukang sampah atau pemulung) merupakan suatu komponen penting dalam sistem penanganan sapah yang ada saat ini dan peningkatan kerja mereka harus menjadi komponen utama dalam sistem penanganan ampah di negara berkembang.

Sistem untuk penanganan sampah organik merupakan komponen-komponen terpenting dalam suatu sistem penanganan sampah kota. Sampah-sampah organik seharusnya dijadikan kompos. Vermi-kompos (pengomposan dengan cacing) atau dijadikan makanan ternak untuk mengembalikan nutrisi-nutrisi yang ada ke tanah. Hal ini menjamin bahwa bahan-bahan yang masih bisa didaur-ulang tidak terkontaminasi. Yang juga merupakan kunci ekonomis dari suatu alternatif pemanfaatan sampah. Daur-ulang sampah menciptakan lebih banyak pekerjaan dan menghasilkan suatu aliran matrial yang dapat mensuplai industri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: